Wuduwou
News:Orangtua zaman sekarang
pastinya ketika ditanya tentang pramuka mereka malah akan cerita masa-masa
indahnya semasa mengenakan kacu atau main semaphore, berseragam
cokelat-cokelat, bermain, berlari-larian, bernyanyi dan tentunya tepuk pramuka.
Hal itu juga masih ada sampai sekarang, namun yang membedakan adalah jika dulu
kegiatan pramuka hanya sebagai ekstrakurikuler yang artinya atas dasar
kesukarelaan, sementara sekarang sudah masuk menjadi pelajaran wajib.
Mungkin
maksudnya baik, agar tujuan dari Gerakan Pramuka adalah menciptakan generasi
berkarakter pancasila melalui tri satya dan dasa darma. Berupa kegiatan
menarik di luar ruangan antara orang dewasa dan anak-anak dengan prinsip dasar
dan metode kepramukaan.
Tenang jangan
panik, karena semua yang saya sampaikan di atas adalah konsumsi untuk para
pembina, sementara untuk anak-anak mereka hanya tinggal bermain, iya bermain.
Permainan yang dikemas semenarik mungkin yang mengikuti perkembangan zaman dan
teknologi. Jadi tidak ada tuh namanya pramuka yang gaptek alias gagal
teknologi.
Kalau zaman saya
masih pramuka Penggalang, ya di era 90an pertengahan, itu ada syarat kecakapan
bisa menggunakan telepon umum, maka bisa saja zaman sekarang dialihkan dengan
penggunaan gawai alias ponsel pintar.
Sebelum terlalu
jauh pembahasan, kita mesti bisa membedakan apa itu pramuka, kepramukaan, dan
gerakan pramuka. Secara sederhana ketiga istilah ini tidak dapat dipisahkan.
Karena Gerakan Pramuka adalah wadah alias organisasi, sementara kepramukaan
ialah metode atau alat yang digunakan dalam mewujudkan tujuan organisasi
sebagai gerakan pendidikan karakter kepada para pramuka. Jadi disini pramuka
adalah objek pembinaan manusia dengan usia mulai dari 7 tahun sampai 25 tahun.
Lantas untuk
mereka yang berusia 26 tahun ke atas apa dong? secara tegas harus disampaikan
bahwa mereka bukan pramuka, melainkan ada yang bisa berperan sebagai pembina
pramuka, pelatih pramuka, instruktur pramuka, majelis pembimbing, pamong dan
lainnya.
Setiap orang
yang berniat masuk dalam pembinaan generasi muda melalui kepramukaan harus
melalui Kursus Mahir Dasar (KMD), Kursus Mahir Lanjutan (KML) dan lainnya.
Sementara sekarang guru kelas diharuskan bisa menjadi pembina pramuka.
Mungkin, jika
Sri Sultan Hamengku Buwono ke-9 atau bahkan bapak kepanduan sedunia, Lord Baden
Powell tahu di Indonesia kegiatan yang dirintisnya dimasukin dalam kurikulum
akan protes keras. Karena memang kepramukaan itu terlahir untuk menjadi tempat
pendidikan di luar keluarga, sekolah dan informal.









Posting Komentar