kala itu aku
tersindir
oleh desir angin yang mengisyaratkan kegetiran
kalau bukan karena firman tuhan
oleh desir angin yang mengisyaratkan kegetiran
kalau bukan karena firman tuhan
aku tak akan sudi lagi menari
di atas hamparan mega birumu
tak sudi aku menyaksikan bangsamu
yang dipenuhi darah amarah
diamlah kau angin!
jangan kau salahkan bangsaku
jangan kau salahkan bangsaku
kau hanya bisa mencibir
menyebarkan kejelekan bangsaku kenegeri-negeri tetangga
tidakkah kau ingat di negeri siapakah kau sedang menari
negeriku negeri suci
bangsaku bangsa beradab!
kesucian negerimu
hanyalah rekayasa belaka
berapa juta galon darah tertumpahkan di negerimu
atas nama kesucian menurut versi bangsamu
kau kemanakan daftar orang-orang hilang
yang sampai aku serenta ini
tidak ada kabar yang jelas
itupun atas nama keberadaban
menurut versi bangsamu
sindiran itu masih
mengabut dalam kalbuku
mengaburkan pandangan cintaku pada ibu pertiwi
mengaburkan pandangan cintaku pada ibu pertiwi
akankah kecintaanku pada negeri ini luntur
akankah kidung cinta
yang senentiasa kudendangkan pada ibu pertiwi harus terhenti
tak mungkin aku
memandang sebelah mata
pada tanah airku yang kucinta
wahai dunia
tunggulah saatnya
ketika bangsaku telah sembuh
mercusuar dunia akan berada dalam tangan kami!
sang angin tersenyum
sinis
dianggapnya aku bangsa bedebah yang membual
ia berlalu sambil berkata
dianggapnya aku bangsa bedebah yang membual
ia berlalu sambil berkata
semoga tuhan memberimu keberuntungan
ngayogyakarta
hadiningrat
segaris dengan puncak merapi
segaris dengan puncak merapi









Posting Komentar